BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Kata al-ins atau al-insan disebut dalam Al-Qur’an
sebanyak 65 kali, kata al-ins senantiasa dipertentangkan dengan al-jinn (jin),
yakni sejenis makhluk halus yang tidak bersifat materi yang hidup diluar alam
manusia, dan tidak tunduk kepada hukum alam kehidupan manusia sebagaimana
disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai makhluk diciptakan dari api.
Makhluk yang membangkang tatkala diperintahkan untuk bersujud kepada Adam.
Kata al-insan bukan berarti basyar dan bukan juga
dalam pengertian al-ins. Dalam pemakaian Al-Qur’an, mengandung pengertian
makhluk mukallaf (yang dibebani tanggung jawab) mengemban amanah Allah untuk
menjadi khalifah dalam rangka memakmurkan bumi.
Al-insan sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Alaq adalah
mengandung pengertian sebagai makhluk yang diciptakan dari segumpal darah,
makhluk yang mulia sebab memiliki ilmu, dan makhluk yang melampaui batas karena
telah merasa puas dengan apa yang ia miliki.
Dalam
beberapa surat lain dalam Al-Qur’an, manusia digambarkan sebagai:
Makhuk
yang suka membantah (QS. An-Nahl’ : 4),
Makhluk
yang lemah dan hina (QS. A-Nisa’ : 28),
Makhluk
yang mudah dipengaruhi oelh sesuatu sehingga lupa kepada Tuhannya (QS.
Al-Infithar: 6-8),
Makhuk
yang melampaui batas dan melupakan penciptanya (QS. Al-lsra’ : 67).
Namun disamping itu, sebagaimana disebutkan diatas
bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk memakmurkan bumi, meskipun
pernyataan Allah tersebut mendapatkan sanggahan dari para malaikat yang
mengatakan bahwa manusia adalah makhuk yang akan banyak menumpahkan darah dan
membuat kerusakan dimuka bumi.
Allah SWT telah memberikan keistimewaan kepada
manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain, sebagaimana Allah
SWT telah menciptakan Adam dari tanah liat, yang kemudian di-tiupkan ruh
kepadanya, lantas Allah memberikan kemampuan untuk berbicara (al-bayan) yang
menggugah hati dan perasaan, sehingga manusia dalam arti basyar berubah menjadi
manusia yang berarti insan yang sanggup menerima Al-Qur’an sebagai petunjuk.Yang
semuanya itu mengandung resiko dengan adanya ujian-ujian yang akan menimpanya,
baik itu bersifat positif atau negatif.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
1. apa
pengertian insan kerjasama, insan jujur, pribandi kondusif, insan disiplin,
insan taat, insan patuh, insan bersahabat, insan tangguh, insan harmoni, insan
produktif, dan pribadi solid?
2. Apa
saja bentuk-bentuk kerjasama?
3. Apa
manfaat dari kejujuran?
1.3
TUJUAN
PENULISAN
1. Untuk
mengetahui pengertian insan kerjasama, insan jujur, pribandi kondusif, insan
disiplin, insan taat, insan patuh, insan bersahabat, insan tangguh, insan
harmoni, insan produktif, pribadi solid.
2. Untuk
mengetahui bentuk-bentuk kerjasama.
3. Untuk
mengetahui manfaat kejujuran.
1.4
MANFAAT
PENULISAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas
Psikologi Pendidikan Peserta Didik dengan manfaat untuk mengetahui pengertian
insan, bentuk kerjasama dan manfaat kejujuran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
INSAN
KERJASAMA
Kata Insan yang berasal dari kata al-Uns dinyatakan
dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali dan tersebar dalam 43 surat. Insan dapat
diartikan secara etimologis adalah harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa.
Pengertian dan Bentuk-Bentuk Kerja Sama
(Cooperation)| Kerja sama, dalam pengertian dan bentuk-bentuk kerja sama,
terdapat 5 bentuk kerja sama (cooperation). Pengertian kerja sama (cooperation)
yang telah didefinisikan oleh para ahli mengatakan bahwa pengertian kerja sama
(cooperatuion) adalah usaha bersama antara orang per orang atau kelompok
manusia untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama ditemui hampir diseluruh
kelompok manusia. Di kalangan masyarakat indonesia dikenal suatu sistem kerja
sama yang disebut gotong royong. Kerja sama dalam kehidupan bangsa indonesia
selalu ditanamkan dan ditekankan mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal,
lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lingkungan pemerintah. Ditanamkannya
sistem kerja sama dalam diri disebabkan adanya pandangan bahwa manusia tidak
mungkin hidup sendiri tanpa kerja sama dengan orang lain.
Bentuk-Bentuk
Kerja Sama
a.
Kerukunan, meliputi gotong royong dan
tolong menolong. Bargaining, yaitu perjanjian pertukaran barang-barang dan jasa
antara dua organisasi atau lebih.
b.
Kooptasi, yaitu proses penerimaan
unsur-unsur baru dalam kepemimpinan sebuah organisasi.
c.
Koalisi, yaitu gabungan dua badan atau
lebih yang mempunyai tujuan sama.
d.
Joint venture, yaitu kerja sama dalam
penguasahaan proyek-proyek tertentu.
2.2
INSAN
JUJUR
Jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang
menyatakan sesuatu degan sesungguhnya
dan apa adanya, tidak di tambahi ataupun tidak dikurangi. Sifat jujur
ini harus dimiliki oleh setiap manusia, karena sifat dan sikap ini merupakan
prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang. Jujur juga dapat menjadi cerminan
dari kepribadian seseorang bahkan kepribadian bangsa. Oleh sebab itulah
kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia. Kejujuran banyak dicontohkan
langsung oleh Rasulullah. Dapat kita ambil keteladanan dari Rasul kita Nabi
Muhammad saw. Yang memiliki sifat wajib bagi Rasul, salah satunya “amanat” yang
berarti dapat dipercaya. Mengapa dapat dipercaya ? Jawabannya karena kejujuran.
Allah menyuruh kita untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Amanat berarti kepercayaan. Orang yang dipercaya tidak pantas untuk melakukan kebohongan.
Kejujuran adalah bekal bagi kita untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Jika seseorang telah memiliki kejujuran maka sesuatu yang wajar jika bila orang
tersebut dapat dipercaya, diberi amanat , oleh orang banyak. Dan amanat itu
sendiri akan disampaikan kepada yang berhak menerimanya, bukan kepada orang
yang tidak berhak menerimanya. Orang yang jujur jugalah yang akan tenang dalam
menjalani hidup di dunia yang fana ini. Betapa hancurnya dunia akan sangat
terasa apabila mayoritas orang-orang yang jujur sangat sedikit.
Jujur memang suatu kegiatan yang mudah, apalagi bagi
kita yang memiliki iman dan ketakwaan yang kuat kepada Allah. Tapi sangat sulit
bagi mereka yang makanan sehari-harinya berbohong . Kebohongan hanya akan
membawa malapetaka bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Sekali
berbohong ketahuan, maka jangan heran
jka kepercayaan orang akan luntur kepada kita.
Berperilaku jujur, tidak akan merugikan kita. Justru
banyak hal yang dapat kita ambil dari kejujuran. Kejujuran membawa manfaat yang
begitu banyak, antara lain dapat membuat seseorang menjadi dapat dipercaya,
disenangi orang lain, mudah mendapat lapangan pekerjaan, dan yang paling
penting adalah dicintai oleh Allah swt. Kejujuran dapat memudahkan seseorang
dalam mendapatkan pekerjaan karena kejujuran adalah poin penting dari
kepribadiaan seseorang yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan semua
pekerjaannya.
Kejujuran
membawa begitu banyak manfaat bagi siapa saja yang melakukannya, dapat kita
lihat sebagai berikut :
a. Orang
jujur akan dipercaya
Orang jujur akan
dipercaya karena ia memiliki sifat dan sikap suka berterus terang,
berbicara atau berbuat apa adanya
, tidak terjadi penambahan ataupun pengurangan kata dalam menyampaikan amanat
seseorang.
b. Orang
jujur disayangi teman.
Hal ini dapat dilihat
pada kehidupan kita sehari-hari. Semua orang tidak ada yang suka pada pembohong
dan pendusta. Sebaliknya orang sangat menyukai orang yang memiliki sifat
jujur, bicara apa adanya, dan tidak berbohong.
Oleh karena itu orang yang selalu berkata jujur memiliki banyak teman yang
sangat sayang kepadanya.
c. Orang
jujur mudah dalam mendapatkan pekerjaan.
Hal ini dapat
dimengerti, sebab tidak seorang pun pemimpin suatu perusahaan, mau menerima
calon pegawai di perusahaannya, apabila sudah jelas-jelas orang itu pembohong
dan pendusta. Jika diterima, berarti sudah merupakan konsekuensi dari
perusahaan yang telah menerima seorang pembohong tersebut dan siap-siap menjadi
korban kebohongan orang tersebut.
d. Orang
jujur dicintai Allah swt.
Jujur adalah perintah
Allah. Orang yang melakukan kejujuran berarti menjalankan perintah Allah, dan
Allah sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang taat, dan Allah membenci hamba-Nya
yang ingkar.
Sifat jujur yang merupakan hal yang mutlak dalam
kehidupan dapat kita ambil dari begitu banyak contoh dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam hidup ini banyak sekali contoh kejujuran yang dapat kita
terapkan, antara lain:
a. Melaksanakan
amanat seseorang.
Secara tidak
disangka-sangka orang lain kadang –kadang menitipkan sesuatu kepada kita baik
berupa pesan, uang, barang, atau yang lainnya untuk disampaikan kepada orang
lain yang berhak menerimanya , atau hanya sekedar dititipkan sampai waktunya
barang atau uang tersebut diambil kembali . Apabila menerima titipan seperti
itu, titipan tersebut harus betul-betul dilaksanakan sesuai dengan yang
dipesankan. Kalau berupa pesan maka pean tersebut tidak boleh ditambah atau
dikurangi. Demikian pula kalau berupa uang atau barang harus jga dijaga dengan
baik supaya tidak hilang atau rusak.
b. Menyimpan
rahasia orang yang harus dijaga.
Dalam hidup ini banyak
yang harus kita bicarakan, tetapi ada pula yang tidak boleh kita bicarakan
kepada orang lain atau harus dirahasiakan. Misalnya ada seorang anak yang
dikejar dan akan dibunuh orang dengan sadis dan kejam. Tiba-tiba anak tersebut
bersembunyi di salah satu rumah dan kita mengetahuinya Orag yang mengejar
kehilangan jejak kemudian bertanya, “Apakah Anda melihat seorang anak berlari
dan bersembunyi di sekitar sini?” Kita jawab “Tidak!” Maka kita telah menolong
dan menyelamatkan jiwa anak tersebut.
c. Tidak
menyontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah .
Mencontoh atau
mencontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah adalah perbuatan yang
tidak dibenarkan. Sebab tugas pelajaran tersebut adalah tugas perorangan yang
tidak boleh satu sama lain mencontoh. Andai saja dari hasil mencontoh mendapat
nilai bagus sesungguhnya yang mendapat nilai bagus tersebut bukanlah kita
tetapi orang lain tempat kita mencontoh . Pendek kata perbuatan mencontoh
adalah perbuatan yang tidak jujur dan menipu diri sendiri.
d. Melaksanakan
tugas dengan baik dan tanggung jawab.
Orang jujur sekali ia
mendapat atau menerima tugas, tugas tersebut pasti di kerjakan secara maksimal
dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya jika ia merasa tidak sanggup atau tidak
bersedia, sebelumnya pasti ia katakan tidak atau belum mau menerima tugas itu
Sebab orang jujur, tidak akan berkata “ya” jika dalam hatinya “tidak”.Orang
yang jujur, tidak akan bersifat munafik di hadapan orang lain.
2.3
PRIBADI
KONDSIF
Pribadi Kondusif adalah pribadi yang bersikap tenang
dan teratur. Sikap kondusif itu sangt penting karena akan melahirkan suatu
ketertiban dalam masyarakat.
2.4
INSAN
DISIPLIN
Insan disiplin adalah Pribadi yang yang taat akan
peraturan yang berlaku.Displin adalah perasaan taat dan patuh terhadap
nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi
tanggung jawabnya. Dalam kehidupan nyata displin sangat dibutuhkan untuk
mendapat kepercayaan dari orang lain. Contohnya jika seorang pegawai yang bekerja
pada suatu perusahaan dan dia tidak displin, maka sang bos akan memiliki rasa
percaya yang kurang terhadap pegawai tersebut. Disiplin sangat diperlukan untuk
membangun negara dalam meningkatkan sunber daya manusia.
2.5
INSAN
TAAT
Insan
taat adalah pribadi yang tunduk pada setiap peraturan yang ada.
2.6
INSAN
PATUH
Insan
Patuh adalah pribadi yang tunduk pada peraturan yang berlaku.
2.7
INSAN
BERSAHABAT
Insan bersahabat adalah pribadi yang
memperlihatkan rasa senang berbicara,bergaul,dan bekerja sama dengan orang
lain.Bersahabat menjadikan individu yang lebih disenangi oleh rekan,keluarga
dan orang lain yang mungkin tidak dikenal.Bersahabat mampu mengubah mood lawan
bicara dan menjadikan suasana runyam menjadi tenang dan bersahabat.
Bersahabat atau
Komunikatif adalah nilai-nilai yang termasuk 18 nilai pendidikan karakter
bangsa atau singkatnya nilai-nilai yang diinginkan dan dibutuhkan oleh Negara
kita. Sedangkan arti dari nilai Bersahabat/ Komunikatif tersebut adalah
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara bergaul dan bekerja sama dengan orang lain. Sikap dan
tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Selain itu
juga dapat berkomunikasi lisan dan tidak lisan dengan efektif juga merupakan
arti dari nilai bersahabat/komunikatif itu sendiri. Contohnya bisa dalam hal
kehidupan nyata dalam sehari-hari, misalnya
seseorang yang lebih mempunyai karakter atau nilai bersahabat/komunikatif
dengan tidak dapat dilihat dari jumlah teman yang Ia miliki. Orang yang
memiliki nilai bersahabat/komunikatif tentu lebih mempunyai banyak teman
daripada yang tidak dan tentunya orang yang lebih memiliki nilai bersahabat
akan lebih disenangi teman-temannya karena Ia
dapat berkomunikasi lisan lebih baik daripada yang tidak sehingga lebih
mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya dan orang yang mempunyai nilai nilai
seperti inilah yang dibutuhkan oleh Negara.
2.8
INSAN TANGGUH
Tangguh sama artinya dengan kuat, kokoh, tahan banting, bertekad untuk
beridri tegak dan gigih pantang menyerah. Tangguh adalah membuat keputusan
untuk mengubah sikap mengasihani diri, suka mengeluh dan bergantung menjadi
percaya diri, mandiri dan totalitas dalam bertindak. Ketangguhan adalah
kemampuan seseorang untuk berbuat yang terbaik dari apa yang dipercayakan
kepadanya.
Ketangguhan diri mampu memotivasi seseorang dalam melaksanakan hal-hal
besar dalam hidupnya. Menempuh risiko, mengubah kebiasaan buruk dan menjadi
manusia unggul. Orang sukses biasanya memiliki ketangguhan yang melebihi orang
biasa. Biasanya mereka memiliki rasa percaya diri yang jauh lebih tinggi dari
orangJika
seseorang ingin menjadi pribadi yang tangguh, maka ia mesti memiliki Konsep Diri. Konsep diri adalah upaya
mengenal diri. Pengenalan diri ibarat penelusuran lorong panjang kehidupan.
Kejujuran dan penerimaan positif terhadap diri adalah kuncinya. biasa.
Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah sebutan
bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan
menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi
positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit
pun.
Pribadi tangguh ini, tidak lain merupakan pribadi
yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang
berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dan lain-lain.
Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu
berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dan lain-lain, maka ia
memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan
setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah
dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap
kejadian tersebut.
Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata
secara fisik. Tapi lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang
begitu tangguh dan kuat. Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya
kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang
sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena
ia berbuat gagal.
Hidup kita akan bahagia, percaya
diri, optimis, dan penuh gairah. Pikiran merupakan kekuatan paling menakjubkan
yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dengan kekuatan pikiran, manusia
melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan, membangun harapan- harapan baru, dan membuat
mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Bahkan, dengan kekuatan pikiran, kualitas hidup
seseorang bisa ditentukan.Adapun ciri-ciri pribadi tangguh, adalah sebagai
berikut :
1.
Pantang Menyerah.
Kalau kita mempunyai kecenderungan mudah menyerah,
maka langkah pertama yang paling penting adalah mengakui kelemahan kita itu
dengan menyadarinya supaya kita bisa memperbaikinya.
2. Memotivasi Diri.
Motivasikanlah diri kita untuk mengembangkan sikap
pantang menyerah. Sikap ini diperlukan untuk meraih keberhasilan dalam hidup.
Orang yang mudah menyerah, frustasi dan mudah putus asa adalah orang yang
gagal.
3.
Fokus Pada Tujuan.
Arahkan mata kita pada tujuan, bukan pada hambatan.
Bila kita memandang pada tujuan, maka hambatan tidak akan menakutkan. Tapi
sebaliknya, bila kita terfokus pada hambatan, kita akan mudah kehabisan daya
juang dalam meraih cita.
4.
Berani Mengambil Resiko.
Beranilah mengambil resiko namun dengan perhitungan
yg mantap, hadapi segala sesuatu dengan positif thinking dan jadilah seorang
petualang baru dengan penuh keberanian. Keberanian yang benar bukan seperti orang yang terjun bebas/langsung ke jurang,
tapi ia kan seperti orang yang menuruninya setahap demi setahap dengan
persiapan yang matang. Kalau kita tidak berani mengambil resiko, tentu saja
Anda berada pada tempat yg aman, namun kita tidak akan berkembang.
5.
Menghadapi Tantangan dengan Keberanian.
Hadapilah semua tantangan dengan penuh keberanian.
Anggaplah tantangan sebagai “Sparing Partner” yg akan membuat kita semakin
kuat, bukan sebagai raksasa yg menelan kita. Semakin banyak tantangan, semakin
berani menghadapinya, maka semakin terbentuk karakter yg kuat.
6.
Belajar dari Kegagalan.
Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa kita
tidak akan berhasil bila pada usaha kita mengalami kegagalan. Belajarlah dari
kegagalan itu agar didapat gambaran yg lebih baik lagi.
7.
Terus Berusaha.
Ambillah segala kesempatan yg ada, karena kesempatan
itu tak datang untuk kedua kalinya, tidak ada pendobrak kegagalan yg sekuat
nilai “kegigihan dan pantang menyerah”.
8.
Kreatif.
Imbangi
kegigihan kita dengan pemikiran yg kreatif. Bila perjalanan kita terhalang oleh
batu cadas, kita tidak perlu membenturkan kepala untuk membuktikan bahwa kita
pantang menyerah.
9.
Tidak Terpengaruh Orang Lain.
Jangan terpengaruh oleh kegagalan orang lain, tapi
biarlah keberhasilan orang lain memotivasi kita. Belajarlah dari kegagalan dan
kesalahan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Dengan cara itu kita
menghemat banyak sekali waktu dan energi yg sangat berharga.
Cara
menjadi pribadi yang berkarakter tangguh, yaitu :
1. Berpikir Positif.
Jangan selalu menuruti perasaan negatif, seperti:
merasa bosan, lelah, jenuh, tersiksa dengan tempat atau masa lalu. Jika kita
merasa sebagai orang yang paling sedih atau menderita di dunia ini, yakinlah bahwa
masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada kita.
2.
Hargailah Orang Lain.
Misalnya dengan cara membuatnya bahagia, tersenyum,
tertawa, memberi pujian yang tulus. Membahagiakan orang lain akan membuatnya
membahagiakan kita di saat yang tak terduga. Dengan cinta, hidup menjadi indah,
persahabatan menjadi langgeng, dan silaturahmi tetap terbina. Tentunya cinta
yang diberikan secara tulus tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan kecuali dari
Allah semata.
3.
Jangan Kekanak-kanakan.
Sikap dewasa menunjukkan kepribadian yang kuat dan
mempesona. Betapa banyak orang tua yang bahkan belum dewasa! Salah satu tanda
kedewasaan seseorang antara lain adalah dari sikap, tutur kata, dan caranya di
dalam mengambil keputusan secara arif dan bijaksana.
4.
Jangan Rendah Diri.
Sudah seharusnyalah kita menerima dan memperbaiki
kekurangan kita tanpa pernah merasa minder atau kecil di depan orang lain.
Percayalah, tidak seorang manusia pun yang sempurna di muka bumi ini.
5. Selalu belajar.
Semakin sering anda belajar, maka semakin banyak
yang anda ketahui. Ilmu ini dapat menjadi lahan amal bagi anda, sehingga anda
merasakan nikmatnya berbagi dan indahnya ilmu.
6.
Selalu tegap, sigap, dan siap.
Posisi atau postur tubuh anda di dalam berkomunikasi
dengan orang lain akan mengungkapkan siapa diri anda yang sebenarnya. Oleh
karenanya, milikilah rencana, target, dan strategi (persiapan) yang matang dan
semangat yang tak pernah pudar.
7.
Bersyukur.
Tetaplah tenang dan tabah, ingatlah bahwa “badai
pasti berlalu” dan “roda itu berputar”. Jangan suka mengeluh, menggerutu, atau
bahkan mencaci-maki nasib. Jangan sampai berkata atau menganggap bahwa Allah
itu tidak adil. Justru di sinilah letak keadilan-Nya.
2.9
INSAN HARMONI
Dalam
konteks pendidikan karakter, dapat dilihat bahwa kemampuan yang harus
dikembangkan pada peserta didik melalui lembaga pendidikan adalah berbagai
kemampuan yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berketuhanan
(tunduk patuh pada konsep ketuhanan) dan mengemban amanah sebagai pemimpin di
dunia. Kemampuan yang perlu dikembangkan pada peserta didik Indonesia adalah
kemampuan mengabdi pada Tuhan yang menciptakannya, kemampuan untuk menjadi
dirinya sendiri, kemampuan untuk hidup secara harmoni dengan manusia dan
makhluk lainnya, dan kemampuan untuk menjadikan dunia ini sebagai wahana
kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
Ukuran
keberhasilan pendidikan seyogianya tidak berhenti pada angka ujian, seperti
halnya ujian Nasional, karena kalau demikian, pembelajaran akan menjadi proses
menguasai keterampilan dan mengakumulasi pengetahuan semata. Paradigma ini akan
menempatkan peserta didik sebagai pelajar imitatif dan belajar dari
ekspose-ekspose didaktis yang akan berhenti pada penguasaan fakta, prinsip dan
aplikasinya. Paradigma ini tentunya tidak sesuai dengan esensi pendidikan yang
digariskan dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003.
Sebelum
mengkaji tenyang tujuan pendidikan karakter pada suatu lembaga pendidikan,
perlu merenungan pertanyaan berikut: Apakah tujuan pendidikan nasional
sebagaimana tertuang dalam UUSPN No 20 Tahun 2003 berkesesuaian dengan
pendidikan karakter?
Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman,
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Mencermati
fungsi pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
dan peradaban bangsa seharusnya memberikan pencerahan yang memadai bahwa
pendidikan harus berdampak pada watak manusia/ bangsa Indonesia.
Fungsi
kedua, “membentuk watak” mengandung makna bahwa pendidikan nasional harus
diarahkan pada pembentukan watak. Pendidikan yang berorientasi pada watak
peserta didik merupakan suatu hal yang sangat tepat, tetapi perlu diperjelas
mengenai istilah perlakuan terhadap “watak”. Apakah watak itu harus
“dikebangkan”, “dibentuk”, atau “difasilitasi”. Perspektif paedagogik, lebih
memandang bahwa pendidikan itu mengembangkan/ menguatkan/ memfasilitasi watak,
bukan membentuk watak.
Fungsi
ketiga “peradaban bangsa”. Dalam spektrum pendidikan nasional dapat dipahami
bahwa pendidikan selalu dikaitkan dengan pembangunan bangsa Indonesia sebagai
suatu bangsa. Dalam perspektif paedagogik, pendidikan itu befungsi untuk
menjadikan manusia yang terdidik dengan kata lain bangsa yang beradab meupakan
dampak dari pendidikan yang menghasilkan manusia terdidik.
Adapun
tujuan pendidikan karakter di lembaga pendidikan adalah: (1) Menguatkan dan
mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga
menjadi kepribadian/ kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana
nilai-nilai yang dikembangkan, (2) Mengoreksi prilaku peserta didik yang tidak
berkesesuian dengan nilai-nilai yang dikembangkan sekolah, (3) Membangun
koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarkaat dalam memerankan tanggung
jawab pendidikan berkarakter secara bersama-sama.
Ketiga
tujuan dalam pendidikan karakter seting sekolah adalah membangun koneksi yang harmoni
dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan
karakter secara bersama. Tujuan ini memiliki makna bahwa proses pendidikan
karakter disekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan dikeluarga. Jika
saja pendidikan karakter disekolah hanya bertumpu pada interaksi peserta didik
dengan guru dikelas dan disekolah maka pencapaian berbagai karakter yang
diharapkan akan karakter yang diharapkan akan sulit diwujudkan.
Mengapa
demikian? Karena penguatan prilaku merupakan suatu hal yang menyeluruh atau
holistik, bukan suatu gambaran dari rentang waktu yang dimiliki anak. Dalam
setiap menit dan detik, interaksi anak dengan lingkungannya dapat dipastikan
akan terjadi proses mempengaruhi prilaku anak. Pertanyaannya, apakah proses
yang dialami oleh anak menguatkkan atau bahkan melemahkan karakter yang
dibangun oleh sekolah?
Ada
beberapa faktor yang berpengaruh pada pembentukan karakter yang meliputi
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga
merupakan faktor utama dan pertama dalam pembentukan sikap perilaku dan
kepribadian atau karakter anak. Keluarga bertanggung jawab pada pembentukan
kepribadian, agama, dan kasih sayang agar tidak terjerumus pada sikap dan
perilaku yang menyimpang. Lingkungan sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Pada
saat siswa berada disekolah maka guru yang bertanggung jawab mendidik, membina,
dan memberi contoh atau teladan yang baik kepada para siswa, tidak hanya
mengembangkan kemampuan akademik namun juga bertanggung jawab membangun
karakter siswa.
Dalam
membangun karakter siswa, harus ilakukan secara menyeluruh oleh semua guru pada
semua mata pelajaran. Guru dapat membangun karakter siswa melalui materi maupun
metode pembelajaran yang diterapkan. Misalnya, diskusi kelompok, melakukan
percobaan secara berkelompok, maka di samping mengembangkan peguasaan atau
pemahaman teori kepada siswa juga dapat dikembangkan keterampilan psikomotor.
Selain itu juga, dapat berkembang aspek sikap, misalnya disiplin dala bekerja,
bertanggung jawab meneyelesaikan tugas, bekerja sama engan teman, mau menerima
pendapat teman atau tenggang rasa, jujur, cermat, tidak musah putus asa, dan
sikap yang lainnya.
Pembelajaran
yang dilakukan sesuai dengan ciri masing-masing mata pelajaran dan menekankan
pada proses atau siswa aktif, maka pembelajaran akan menarik, bermakna bagi
siswa sehingga dapat mengembangkan sikap an perilaku positif bagi siswa.
Lingkungan asyarakat berpengaruh pada pembentukan karakter siswa. Siswa yang
berada pada lingkungan masyarakatnya baik, maka akar bersikap dan berperilaku
baik, dan sebaliknya apabila berada pada lingkungan yang kurang baik juga akan
bersikap dan berperilaku kurang baik.
Lembaga
pendidikan dalam membangun karakter harus menjalankan pendekatan pendidikan
nilai yang komprehensif, antara lain meliputi: (1) Bertindak sebagai pengasuh
teladan dan pembimbing yang memperlakukan siswa dengan cinta kasih, memberi
teladan yang baik, mendukung perilaku pro sosial dan mengoreksi perilaku yang
kurang tepat/ menyimpang; (2) Menciptakan komunitas moral di kelas, membantu
siswa di kelas untuk saling mengenal, peduli dan saling menghormati; (3)
Mepraktikkan disiplin moral, menegakkan peraturan dan menjadikan peraturan
tersebut sebagai kontrol diri; (4) Menciptakan lingkungan kelas yang
demokratis, melibatkan siswa dalam diskusi dan pengambilan keputusan, ikut
bertanggung jawab bahwa sekolah sebagi tempat untuk belajar; (5) Mengajarkan
nilai melalui kurikulum, menggunakan mata pelajaran sebagai sarana untuk
mengkaji masalah etika; (6) Menggunakan pembelajaran kooperatif, untuk
mengajarkan sikap dan keterampilan
tolong menolong dan kerja sama dengan temannya, tanggung jawab terhadap dirinya
maupun kelompok, dan dapat bekerja sama dengan baik.
2.10
INSAN PRODUKTIF
Perbaikan
kualitas pendidikan juga harus secara mutlak diterapkan pada pendidikan 12
tahun. Hal ini untuk menjamin agar calon insan produktif yang nantinya akan
membawa perubahan di Indonesia dapat setidaknya mengenyam pendidikan
menengah. Selanjutnya bisa diberikan akses terbuka bagi mereka untuk
mengenyam pendidikan yang lebih tinggi yaitu di pendidikan tinggi.
Kualitas
pendidikan di Indonesia sangat dipengaruhi bagaimana kualitas pendidikan
tinggi. Pendidikan tinggi inilah yang nantinya menciptakan sarjana yang akan
memimpin kekuatan ekonomi di Indonesia pada nantinya. Perlu penambahan jumlah
doktor. Ini penting karena lulusan pendidikan tinggi adalah tenaga ahli dan
profesional yang siap memasuki dunia kerja (usaha dan industri) ataupun membuka
lapangan kerja baru. Perlu pula penambahan kuantitas pendidikan tinggi negeri
agar semakin banyak jumlah sarjana di Indonesia yang diharapkan pada nantinya
dapat memimpin ke arah Indonesia emas 2045.
Dalam
menempuh pendidikan bermutu ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan untuk
merealisasikan ide tersebut. Pertama adalah perbaikan kualitas dari tenaga
pendidik. Tenaga pendidik inilah yang nantinya menjadi faktor penentu dalam
terciptanya kesuksesan pendidikan di Indonesia. Guru bermutu menjadi variabel
penting bagi terwujudnya pendidikan yang bermutu. Ada beberapa wacana yang
mengatakan kualitas guru di Indonesia masih belum terlalu tinggi. Seorang guru
diharapkan dapat bekerja dengan orientasi profesional bukan hanya orientasi
birokrasi semata. Ada kesadaran dari seorang guru untuk membantu pemerintah
dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Sehingga hal ini merupakan kewajiban dari pendidikan tinggi keguruan
yang secara langsung menciptakan para tenaga pendidik. Perlu revitalisasi LPTK
sebagai perguruan tinggi yang bertanggung jawab dalam mendidik calon
pendidik/guru dengan landasan filosofi, kerangka pikir akademik, program
pendidikan akademik dan profesi yang utuh dan akuntabel. Pengiriman Guru
untuk daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal, melalui SM3T juga merupakan
upaya dalam pembenahan kualitas guru sehingga perlu ditingkatkan kebijakan
tersebut.
Kedua adalah
kurikulum yang dijalankan pada pendidikan nasional. Seperti yang diterapkan
pada kurikulum 2013 diharapkan nantinya dapat membentuk peserta didik dengan
sifat unggul yang berkarakter protagonis, kreatif dan inovatif, mampu
berpikir tingkat tinggi, tahu dan segan terhadap bumi pertiwi, cinta dan
mempunyai patriotisme terhadap bangsa, dan mampu secara produktif memberikan
sumbangsih terhadap Indonesia. Seperti halnya pendidikan karakter yang
diharapkan nantinya dapat menciptakan manusia tidak hanya kuat intelektualnya
tetapi juga mempunyai spiritual yang tinggi dan mampu secara konkrit
menempatkan dirinya pada lingkungannya dan bersosialisasi dengan manusia dan
alam sekitarnya. Harus diadakan pembelajaran kreatif untuk mendorong kemampuan
menyinergikan fungsi otak kiri dan kanan yang sangat diperlukan untuk
mengembangkan kecakapan berpikir divergen, kreatif, lateral, dan kritis.
Ketiga
adalah perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang proses pendidikan berlangsung.
Perbaikan gedung dan fasilitas sekolah, pengadaan buku-buku dan sumber
literatur lain, kemudahan akses memperoleh informasi dan ilmu, penciptaan
suasana lingkungan pendidikan yang kondusif, pengadaan alat-alat praktikum dan
peraga yang relevan dengan pendidikan, pengadaan alat-alat canggih berbasis
teknologi, dan tentunya pengadaan guru, kepala sekolah, serta pengawas yang
berkualitas tinggi. Untuk itulah diperlukan budget yang tinggi untuk
penyelenggaraan pendidikan.
Langkah
nyata adalah pengadaan beasiswa untuk para siswa dan mahasiswa di Indonesia.
Beberapa kebijakan dan program seperti BOS untuk Pendidikan dasar dan Menengah,
Bantuan Siswa Miskin (BSM), Bidikmisi, Bantuan Operasional untuk Perguruan
Tinggi Negeri (BOPTN), dan Pendirian Perguruan tinggi Negeri baru dan sekolah
berasrama merupakan sebagian dari upaya untuk meningkatkan akses secara
inklusif dan berkeadilan. Kemudahan untuk mengenyam pendidikan bagi tiap-tiap
bangsa diharapkan menjadi langkah pasti dari perwujudan cerdasnya generasi
bangsa Indonesia nantinya. Sudah tidak lucu jika masih ada bangsa
Indonesia terutama mereka yang saat ini berada pada usia sekolah tidak bisa
mengenyam pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Indonesia
emas 2045 diharapkan akan terwujud mengingat pada tahun itu akan melipah usia
produktif yang mampu berkontribusi mengelola alam dan menyelesaikan
permasalahan yang beragam di Indonesia. Pendidkan merupakan langkah pasti
menuju era itu sehingga diperlukan pembenahan kualitas guru, kurikulum, dan
sarana dan prasarana proses pendidikan untuk mewujudakan pendidikan bermutu.
Pengentasan kemiskinan dengan pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi
maupun pelajar dengan keterbatasan ekonomi namum memiliki kemampuan akademik
juga ikut andil dalam perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Jadi adanya
penerapan pendidikan bermutu dapat mewujudkan era generasi emas 2045.
2.11
PRIBADI SOLID
Solid
menurut KBBI berarti kuat, kukuh, dll. Namun, arti dari sebuah kesolidan itu
tidak berhenti hanya pada hitam di atas putih. Kesolidan itu membutuhkan sebuah
proses yang berkelanjutan dan dengan waktu yang menjadi considerannya adalah
kualitas dari SDM yang bersangkutan. Kesolidan itu adalah tujuan yang hendaknya
dihayati secara nyata dan diperjuangkan secara konkret, bukan hanya sekedar
buaian-buaian kekompakan yang imajiner saja.
Solid itu
satu, rekat, kuat. Timbulnya rasa kepedulian
yang mendalam dalam bentuk empati antar sesama dalam sebuah komunitas
akan menstimulus munculnya kesolidan itu sendiri. Akan menjadi hal yang hanya
sekedar menjadi wacana belaka, bila kesolidan itu tidak memiliki semangat
kepedulian, kekompakan, dan kekeluargaan. Sikap saling menerima satu sama lain
entah itu kelebihan maupun kekurangan, saling percaya, dan interaksi yang
berkualitas akan mendukung terciptanya suasana yang kondusif untuk memunculkan
rasa kesolidan yang tinggi. Api semangat kepedulian, kekompakan, dan
kekeluargaan harus sering disulut dalam setiap pribadi karena percuma ketika kita bangga dengan kesolidan kita
namun kita sendiri belum berdiri di atas pondasi kekeluargaan yang utuh. Satu
hal yang patut untuk dikritisi tiap saat.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
A. Insan
kerja sama (cooperatuion) adalah usaha bersama antara orang per orang atau
kelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama.
B. Insan
jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu degan
sesungguhnya dan apa adanya, tidak di
tambahi ataupun tidak dikurangi.
C. Insan
Kondusif adalah pribadi yang bersikap tenang dan teratur.
D. Insan
disiplin adalah Pribadi yang yang taat akan peraturan yang berlaku.
E.
Insan taat adalah pribadi yang tunduk
pada setiap peraturan yang ada.
F.
Insan Patuh adalah pribadi yang tunduk
pada peraturan yang berlaku.
G. Insan
bersahabat adalah pribadi yang memperlihatkan rasa senang berbicara,bergaul,dan
bekerja sama dengan orang lain.
H. Insan tangguh sama artinya dengan kuat, kokoh, tahan banting, bertekad
untuk beridri tegak dan gigih pantang menyerah.
I. Kemampuan yang perlu dikembangkan pada peserta didik Indonesia
adalah kemampuan mengabdi pada Tuhan yang menciptakannya, kemampuan untuk
menjadi dirinya sendiri, kemampuan untuk hidup secara harmoni dengan manusia
dan makhluk lainnya, dan kemampuan untuk menjadikan dunia ini sebagai wahana
kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
J. Perbaikan
kualitas pendidikan juga harus secara mutlak diterapkan pada pendidikan 12
tahun. Hal ini untuk menjamin agar calon insan produktif yang nantinya akan
membawa perubahan di Indonesia dapat setidaknya mengenyam pendidikan
menengah. Selanjutnya bisa diberikan akses terbuka bagi mereka untuk
mengenyam pendidikan yang lebih tinggi yaitu di pendidikan tinggi.
K.
Insan solid adalah tujuan yang hendaknya dihayati
secara nyata dan diperjuangkan secara konkret, bukan hanya sekedar
buaian-buaian kekompakan yang imajiner saja.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar