Sejarah Caringin, Mengkaji Kisah
Regen Boncel, meletus krakatau Sampai Pada masa Syekh Asnawi
Urgensi melestarikan benda cagar
budaya dan kegiatan literatur dalam penulisan sejarah merupakan bentuk
kepedulian dan tanggung jawab baik kita sebagai person “pewaris sejarah” maupun
lembaga formal seperti kementrian budaya atau ditingkat regionalnya Dinas
Pariwisata dan Budaya agar generasi s.aat ini dan selanjutnya tidak melupakan
sejarah dan makna didalamnya, karena apabila dilihat dari waktu kewaktu kondisi
hari ini terkait pelestarian benda cagar budaya sangat memprihatinkan sebagai
contoh di kawasan provinsi Banten seperti benteng-benteng di kesultanan Banten
Lama yang seperti tidak mendapatkan perhatian padahal animo pengunjung sangat
besar baik wisata religi maupun sejarahnya.
Sebagaimana tema yang penulis angkat kali ini
tentang Sejarah Caringin, Mengkaji Kisah Regen Boncel, meletus krakatau
Sampai Pada masa Syekh Asnawi, merupakan karya sederhana sebagai
pembelajaran khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca dan usaha
memperkaya karya tulis sejarah tentang sejarah Caringin yang memang kurang
mendapatkan perhatian dari para sejarawan, referensi yang penulis gunakan
adalah karya ilmiah yang terdapat pada website Disbudpar Pandeglang dan
Provinsi Banten, buku serta cerita rakyat yang memang masing ada.
I). Nama Caringin
Nama Caringin saat ini adalah nama suatu desa yang terletak di kecamatan Labuan kab. Pandeglang-Banten yang secara geografis terletak dibibir pantai, menurut Syaukatudin (Tokoh Masyarakat) Nama Caringin berasal dari keberadaan pohon beringin di caringin dulu dan sesuai perjalanan waktu pohon beringin menjadi identitas penamaan wilayah sehingga disebut menjadi Caringin, selain itu ada pula yang memaknai bahwa pohon beringin adalah filosofi dari pohon beringin yang memiliki ranting-ranting yang berkembang dengan daun-daunnya dan meneduhkan disekitarnya hal ini relevan dengan kondisi wilayah caringin yang memiliki tokoh ulama yang mendidik ilmu agama dan sosial masyarakat caringin serta pejuang perlawanan terhadap kolonial belanda yaitu Syekh Asnawi, bahkan sampai dengan saat inipun wilayah caringin masih terkenal dengan pondok pesantren salafi serta pendidikan formal Madrasah Masyariqul Anwar Caringin.
Nama Caringin saat ini adalah nama suatu desa yang terletak di kecamatan Labuan kab. Pandeglang-Banten yang secara geografis terletak dibibir pantai, menurut Syaukatudin (Tokoh Masyarakat) Nama Caringin berasal dari keberadaan pohon beringin di caringin dulu dan sesuai perjalanan waktu pohon beringin menjadi identitas penamaan wilayah sehingga disebut menjadi Caringin, selain itu ada pula yang memaknai bahwa pohon beringin adalah filosofi dari pohon beringin yang memiliki ranting-ranting yang berkembang dengan daun-daunnya dan meneduhkan disekitarnya hal ini relevan dengan kondisi wilayah caringin yang memiliki tokoh ulama yang mendidik ilmu agama dan sosial masyarakat caringin serta pejuang perlawanan terhadap kolonial belanda yaitu Syekh Asnawi, bahkan sampai dengan saat inipun wilayah caringin masih terkenal dengan pondok pesantren salafi serta pendidikan formal Madrasah Masyariqul Anwar Caringin.
II). Regen Boncel dan Keregenan Caringin
Nama regen bocel melekat dengan sejarah Caringin, sebagaimana dalam karya tulis dan cerita yang berkembang dalam masyarakat wilayah Caringin bahwa regen Boncel adalah regen di keregenan Caringin dengan nama lengkap TB.Wirajaya. (1816- ? ) beliau adalah pendatang dari daerah Jawa Barat yang pergi dari rumah merantau sampai langkah kakinya menginjak tanah Caringin dan kemudian mengabdi di rumah disalah satu tokoh, menurut cerita yang berkembang Boncel pada saat itu dipercaya untuk mengurusi kuda di gedogan atau istal (kandang kuda) yang pada saat ini menjadi alat transportasi, karena keinginan untuk terus maju dan berkembang regen boncel meski bekerja mengurusi kuda akan tetapi ia sering memperhatikan anak tuannya yang belajar menulis dan membaca dan disaat itulah Boncel ikut belajar sampai suatu hari tuan regen boncel melihat tulisan di diding gedogan/istal kuda dibelakang rumahnya, lalu tuannya menanyakan pada anaknya tentang tulisan tersebut dan anaknya menjelaskan bahwa yang menuliskan itu adalah boncel, mulai dari saat itulah regen boncel diketahui kelebihannya dan seiring dengan perkembangan kemampuan regen boncel ia dipercaya menjadi orang kepercayaan sampai menjadi regen di kergenan atau kabupaten Caringin sesuai dengan perkembangan pemerintahan pada tahun 1816, pemerintah kolonial telah membagi Kesultanan Banten menjadi 4 kabupaten.
Nama regen bocel melekat dengan sejarah Caringin, sebagaimana dalam karya tulis dan cerita yang berkembang dalam masyarakat wilayah Caringin bahwa regen Boncel adalah regen di keregenan Caringin dengan nama lengkap TB.Wirajaya. (1816- ? ) beliau adalah pendatang dari daerah Jawa Barat yang pergi dari rumah merantau sampai langkah kakinya menginjak tanah Caringin dan kemudian mengabdi di rumah disalah satu tokoh, menurut cerita yang berkembang Boncel pada saat itu dipercaya untuk mengurusi kuda di gedogan atau istal (kandang kuda) yang pada saat ini menjadi alat transportasi, karena keinginan untuk terus maju dan berkembang regen boncel meski bekerja mengurusi kuda akan tetapi ia sering memperhatikan anak tuannya yang belajar menulis dan membaca dan disaat itulah Boncel ikut belajar sampai suatu hari tuan regen boncel melihat tulisan di diding gedogan/istal kuda dibelakang rumahnya, lalu tuannya menanyakan pada anaknya tentang tulisan tersebut dan anaknya menjelaskan bahwa yang menuliskan itu adalah boncel, mulai dari saat itulah regen boncel diketahui kelebihannya dan seiring dengan perkembangan kemampuan regen boncel ia dipercaya menjadi orang kepercayaan sampai menjadi regen di kergenan atau kabupaten Caringin sesuai dengan perkembangan pemerintahan pada tahun 1816, pemerintah kolonial telah membagi Kesultanan Banten menjadi 4 kabupaten.
Sebagaimana menurut TB Najib (Tulisan dalam Website
Disbudpar Banten) bahwa pembagian empat kabupaten Oleh colonial yaitu: Ki Patih
Derus diangkat dengan gelar Patih di Banten Kidul, membawahi Bupati angkatan
pertama dari pemerintah kolonial yang masih dipilih dari para keturunan bekas
para sinuhun Negara Kesultanan Banten, yaitu yang bernama Pangeran Senadjaya
alias Ratu Bagus Djamil. Ia menduduki jabatan dari tahun 1817 sampai dengan
tahun 1830. Demikian juga di Banten Lor (Serang) jabatan Bupati dari zuriat
Kesultanan Banten, Pangeran Mudzakar Ari Santika ( 1816-1827), dan Banten Kulon
yang menjabat Bupati adalah TB.Wirajaya alias Regen Boncel. (1816- ? )
Nasib boncel telah berubah yang awalnya sebagai
pengurus kuda kini menjadi Regen yang disegani, sebagai kesempurnaan regen
memiliki istri seorang wanita diwilayah caringin, setelah menjadi regen
Caringin tentu Boncel memiliki ketenaran yang sampai terdengar oleh orang
tuanya, sehingga bapak dan ibunya memiliki inisiatif untuk menemui regen boncel
dari wilayah jawa barat ke Caringin, setelah orang tua regen boncel melakukan
perjalanan ke Caringin sampailah di kediaman regen boncel (kantor keregenan)
akan tetapi sebelum orang taunya masuk kedalam mereka dihadang oleh prajurit
yang menjaga gerbang keregenan Caringin, lalu prajurit memberitahukan akan
kedatangan orang tua nya akan tetapi regen boncel tidak menanggapi karena ia
sedang menyambut tamu besar keregenan, sedangkan di depan gerbang orang tua nya
adu mulut dengan prajuritnya, karena memaksa orang tua regen boncel maksa masuk
kedalam menemui regen boncel, setelah bertemu dengan regen boncel orang tuanya
begitu bangga melihat anaknya yang berhasil namun sayang Boncel tidak mengakui
bahwa mereka yang berpakaian dan penampilan sederhana itu orang tua nya mungkin
karena malu terhadap isteri dan para tamu yang ada di dalam keregenan pada saat
itu, karena tidak di akui sebagai orang tuanya lalu mereka keluar dan perge ke
arah utara Caringin untuk pulang, tidak lama setelah kedua orang tua nya perge
regen boncel menyesal telah mengusir kedua orang tua nya dan memerintahkan
kepada para prajuritnya untuk mengejar mereka, akan tetapi kedua orang tua nya
telah menghilang di tepi sungai di wilayah Desa Tenjolahang yang berjarak sekitar
satu kilometer dari Caringin. Tidak lama dari kejadian itu kemudian regen
Boncel ditimpah penyakit gatal-gatal seluruh tubuhnya yang disebabkan ulah
kedurhakaannya terhadap orang tua nya.
Cerita rakyat tentang regen boncel memang familiar meskipun tidak meluas pada segi lain seperti sistem pemerintahan maupun budaya pada masa itu, terlepas dari itu kini diketahui kuburan regen Boncel terletak di desa Pejamben kecamatan Carita, desa pemekaran dari desa Caringin.
Cerita rakyat tentang regen boncel memang familiar meskipun tidak meluas pada segi lain seperti sistem pemerintahan maupun budaya pada masa itu, terlepas dari itu kini diketahui kuburan regen Boncel terletak di desa Pejamben kecamatan Carita, desa pemekaran dari desa Caringin.
III). Meletusnya Gunung Krakatau
Fenomena meletusnya gunung krakatau pada tahun 1883 yang menelan korban jiwa sebanyak 15000 jiwa sampai dengan hari ini telah menjadi catatan sejarah besar karena pengaruh meletusnya Gunung Krakatau yang memiliki tinggi sekitar 2000 meter dari atas permukaan laut telah menghancurkan ¾ bagian tubuhnya yang hanya tinggal 813 meter dari atas permukaan laut. Gesekan dua lempengan besar antara Indo-Australia dan lempengan Pasifik menyebabkan terjadinya gesekan dan tekanan yang sangat besar, sehingga menimbulkan letusan yang dahsyat. Gemuruh letusannya mampu terdengar sampai radius 3000 Km, di antaranya terdengar hingga Darwin-Australia, hempasan gelombangnya hingga sampai radius 7000 Km, atau hingga semenanjung Arab. Gelmbang Tsunami atau gelombang pasang hingga menempa pantai barat Amerika Tengah dan telah terjadi kerusakan berat di Hawai. Hujan batu vulkanik hingga sampai pada radius 780.000 Km. (Tubagus Najib dalam Disbudpar Banten)
Fenomena meletusnya gunung krakatau pada tahun 1883 yang menelan korban jiwa sebanyak 15000 jiwa sampai dengan hari ini telah menjadi catatan sejarah besar karena pengaruh meletusnya Gunung Krakatau yang memiliki tinggi sekitar 2000 meter dari atas permukaan laut telah menghancurkan ¾ bagian tubuhnya yang hanya tinggal 813 meter dari atas permukaan laut. Gesekan dua lempengan besar antara Indo-Australia dan lempengan Pasifik menyebabkan terjadinya gesekan dan tekanan yang sangat besar, sehingga menimbulkan letusan yang dahsyat. Gemuruh letusannya mampu terdengar sampai radius 3000 Km, di antaranya terdengar hingga Darwin-Australia, hempasan gelombangnya hingga sampai radius 7000 Km, atau hingga semenanjung Arab. Gelmbang Tsunami atau gelombang pasang hingga menempa pantai barat Amerika Tengah dan telah terjadi kerusakan berat di Hawai. Hujan batu vulkanik hingga sampai pada radius 780.000 Km. (Tubagus Najib dalam Disbudpar Banten)
Tsunami yang disebabkan letusan
krakatau juga tidak lepas dari perjalanan sejarah Caringin sebagai keregenan
bahkan kota penting di Banten Kulon sehingga mempengaruhi pemerintahan
keregenan Caringin setelah masa regen Boncel, sebagai usaha untuk
mengetahui lebih komprehensif dilakukanlah penelitian arkeologi bawah air
tahun 1985 atau anderwater di pantai Caringin, telah ditemukan artefak
bangunan, struktur kanal, framen keramik dll, kurang lebih sekitar 20 meter
dari garis pantai saat ini, bahkan hingga saat ini masih ada tiang bangunan
yang diperkirakan tiang sebuah masjid Agung Caringin, jaraknya dari garis
pantai sekitar 7 meter diwaktu pasang. Tiang bangunan tersebut berada di pantai
Caringin atau di lokasi situs Gedung Rombeng, namun sangat disayangkan saat ini
beberapa benda peninggalan sejarah penting telah tiada meskipun beberapa lainnya
telah diselamatkan di monumen.
Berikutnya pada tahun 2003 ini, penelitian
dilakukakan untuk menyusuri hulu kanal yang pada tahun sebelumnya telah
diketahui hilirnya yang ditemukan di bawah permukaan air laut. Hulu kanal telah
ditemukan di desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, sementara bentuk kanal telah
berubah, posisinya sudah tidak lurus dan bentuknya seperti aliran sungai.
Sebaliknya sungai Cikande yang berada pada arah lor atau Caringin Lor bentuknya
semangkin menyempit. Sungai Caringin yang merupakan sungai besar dan pensuplay
hasil bumi dari hulu sduah tidak bisa ditemukan lagi, yang ada sungai
Cisanggoma yang besar kemungkinan Cisanggoma ini bekas kanal yang berubah
menjadi seperti sungai. (Tubagus Najib)
IV). Syekh Asnawi (Ulama dan Pejuang
perlawanan kolonial Belanda
Caringin sampai dengan hari ini masih menjadi kota santri dan wisata religi baik domestik sampai mancanegara, kondisi ini terjadi karena keberadaan makam aulia yaitu Syekh Asnawi terlahir di Kampung Caringin, Labuan Banten, sekitar tahun 1850 dengan ayah bernama Abdurrahman, dan ibunya, Ratu Sabi’ah. Bahkan, disebutkan pula bahwa Kiai Asnawi masih keturunan Sultan Ageng Mataram Raden Patah. Tak heran jika sejak kecil, Asnawi hidup dalam didikan yang baik.
Caringin sampai dengan hari ini masih menjadi kota santri dan wisata religi baik domestik sampai mancanegara, kondisi ini terjadi karena keberadaan makam aulia yaitu Syekh Asnawi terlahir di Kampung Caringin, Labuan Banten, sekitar tahun 1850 dengan ayah bernama Abdurrahman, dan ibunya, Ratu Sabi’ah. Bahkan, disebutkan pula bahwa Kiai Asnawi masih keturunan Sultan Ageng Mataram Raden Patah. Tak heran jika sejak kecil, Asnawi hidup dalam didikan yang baik.
Sebelum melanjutkan patut dipaparkan akan bukti
arkeologi pasca letusan gunung krakatau terdapat kubur-kubur kuno di sepanjang
pantai Caringin dan disana pula lokasi makam Syekh Asnawi, antara lain kubur
pejabat Bupati pertama Caringin yang bernama Regent Boncel dan istrinya, kubur
Pangeran Jimat (apakah ada kaitannya dengan meriam Ki Jimat?), dan kubur para
pejabat Bupati lainnya. Kompleks kubur tersebut secara toponim disebut Istana
Gede di Desa Pejamben. Kubur para pejabat Bupati ini bentuk nisannya
artifisial, sementara kubur ulama yang berada di Desa Caringin bentuk nisannya
dari batu alam, polos halus dari batuan andesit. Kubur ulama ini di antaranya
kubur K.Mas Caringin. Kubur.K.Mahdi, kubur K.Mas Abdurahman.
a mengalami perubahan lagi, apakah yang ke lebih baik ataukah ke yang lebih buruk. Bilamana ke yang lebih buruk akan terjadi bencana apalagi bagi Caringin. Caringin yang saat ini tidak hanya telah menjadi kota santri juga kota situs purbakala sebagai bukti korban dari letusan Gunung Krakatau. (Tubagus Najib)
a mengalami perubahan lagi, apakah yang ke lebih baik ataukah ke yang lebih buruk. Bilamana ke yang lebih buruk akan terjadi bencana apalagi bagi Caringin. Caringin yang saat ini tidak hanya telah menjadi kota santri juga kota situs purbakala sebagai bukti korban dari letusan Gunung Krakatau. (Tubagus Najib)
Selanjutnya sebagaimana tulisan Afriza Hanifa
tentang KH Asnawi Bin Abdurrahman Al Bantani di REPUBLIKA.CO.ID,
bahwa pada usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Asnawi sudah dikirim
ayahnya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu
gurunya, Syekh Nawawi Al Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram.
Hubungan sebagai guru dan murid juga diikat dengan asal kelahirannya yang sama
(Banten), Syekh Asnawi dididik dengan baik hingga bekal ilmu nya cukup untuk
Syekh Asnawi bersyi’ar agama di tanah kelahirannya. (Republika)
Kiyai dan pejuang julukan inilah yang diberikan
pada Syekh Asnawi karena sebagai Kiyai beliau menyiarkan ajaran Islam di
Caringin dan sekitarnya selain itu perlawanan Syekh Asnawi terhadap kolonial
Belanda bersama-sama denga rakyat pribumi juga terus dilakukan karena
kedzoliman yang dilakukan penjajah, meskipun berbagai tantangan yang
cukup berat baik kondisi pendidikan masyarakat maupun kompeni Belanda yang
tidak senang terhadap kegiatan beliau, sehingga beliau sempat diasingkan ke
Cianjur dan Tanah Abang-Jakarta dengan dalih pemberontakan terhadap
pemerintahan kolonial Belanda.
Cerita tentang Syekh Asnawi pada saat krakatau
meletus juga masih menjadi cerita turun temurun, menurut salah satu sumber
menyebutkan bahwa ketika sebelum gunung krakatau meletus beliau telah
mengevakuasi kitab-kitab di rumahnya dan membawanya ke menes tepatnya di
cigandeng-Menes (kaki Gunung Pulosari) karena mungkin syeh Asnawi telah
mengetahui bahwa gunung Krakatau sangat potensial meletus dalam waktu dekat.
Pasca letusan dan sekembalinya Syekh Asnawi dari pengasingan beliau mendirikan masjid dengan nama masjid Caringin dan keluarga syekh mendirikan sebuah Madrasah Masyariqul Anwar bahkan berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari satu pohon yang dibawa dari daerah Kalimantan. Kontribusi syekh Asnawi terhadap masyarakat Caringin dan sekitar bahkan Banten sangat besar selain mendidik ilmu agama juga membentuk karakter umat agar memiliki mental pejuang, beliau meninggal pada tahun 1937, meninggalkan 23 putra dan putri.
Pasca letusan dan sekembalinya Syekh Asnawi dari pengasingan beliau mendirikan masjid dengan nama masjid Caringin dan keluarga syekh mendirikan sebuah Madrasah Masyariqul Anwar bahkan berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari satu pohon yang dibawa dari daerah Kalimantan. Kontribusi syekh Asnawi terhadap masyarakat Caringin dan sekitar bahkan Banten sangat besar selain mendidik ilmu agama juga membentuk karakter umat agar memiliki mental pejuang, beliau meninggal pada tahun 1937, meninggalkan 23 putra dan putri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar