BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara bahasa manusia berasal dari kata “ manu” (Sansekerta), “ mens”
(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi ( mampu menguasai
makhluk lain ). Secara
istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep
atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau
realitas, sebuah kelompok
( genus) atau seorang individu.
Insan atau manusia
mampu memiliki strategi untuk membentuk generasi-generasi yang mencakup insan
yang cerdas,insan yang kuat, insan yang berbudaya, dan insan yang bermartabat. Manusia
harus menguasai segala sesuatu yang
berhubungan dengan kepemimpinannya di
muka bumi disamping tanggung jawab dan etika
moral harus dimiliki, menciptakan nilai kebaikan,
kebenaran, keadilan dan tanggung jawab
agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain
itu manusia juga harus mendayagunakan
akal budi untuk menciptakan
kebahagiaan bagi semua makhluk
Tuhan di muka bumi ini.
B.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana
strategi yang tepat untuk membentuk generasi emas dalam upaya bentuk insan yang
cerdas, kuat, berbudaya, dan bermartabat ?
b.
Bagaimana
cara manusia untuk mempertahankan insan di dalam dirinya?
C.
Tujuan Penulisan
Pembuatan
makalah/paper ini bertujuan untuk dapat mengetahui strategi membentuk generasi
insan cerdas, insan kuat, insat berbudaya, dan insan bermartabat serta mampu
mengaplikasikan di kehidupan bermasyarakat dan bernegara
BAB II
PEMBAHASAN
A. Membentuk Insan Yang Cerdas
Insan
yang cerdas
berarti pandai, tajam pikiran dan sempurna perkembangan akal budinya. Insan
yang cerdas dan terampil adalah insan dengan kemampuan akalnya dapat memahami
berbagai alam dan sosial, serta memanfaatkannya demi kesejahteraan umat manusia
baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Pembangunan
pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat merupakan upaya
pengejewantahan salah satu cita-cita nasional, yaitu menciptakan anak bangsa
yang cerdas dan bermartabat. Proses pencerdasan dan pemartabatan bangsa
dilakukan tidak lepas dari proses belajar mengajar dan pelatihan baik melalui
jalur sekolah maupun jalur luar sekolah.
Berbicara
pembangunan pendidikan di Indonesia, Syafaruddin (2001:1) menjelaskan,
“Pembangunan bidang pendidikan mengemban misi pemerataan pendidikan yang
menimbaulkan ledakan pendidikan (education explotion). Hal itu memberikan
peningkatan mutu sangat signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia
(human recourses development) bangsa kita. Strategi pendidikan nasional ketika
itu adalah popularisasi pendidikan yang mengakar pada pemerataan pendidikanb.
Lebih jauh semakin dirasakan bahwa pembangunan sekolah-sekolah memiliki fungsi
strategis bagi peningkatan kualitas warga Negara, harkat, dan martabat bangsa
Indonesia”.
Langkah
yang harus dilakukan untuk bisa mencapai derajat manusia Indonesia yang bermartabat, cerdas,
dan terampil atau “insan kamil” atau manusia paripurna, Irfan Hielmy (ibid: 53)
adalah dengan mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri manusia sesuai
dengan fitrahnya, baik potensi jasmani (yakni daging, tulang, otot, darqh, dan
sebaginya) maupun potensi rohani (yaitu akal, akhlak, budi pekerti, kolbu atau
bathin, firasat, rasa, karsa, nafsu, dan sebagainay) harus dikembangkan secara
seimbang, dijaga, dibina, dan dikembangkan melalui suatu proses pendidikan
sejak ia lahir sampai berpulang ke rahmatullah.
B. Membentuk Insan Yang Berkarakter
Kuat
Hidup
dalam dunia yang sangat keras serta penuh dengan tantangan di samping sangat
dibutuhkan kecerdasan intelektual yang sangat tinggi, juga sudah menjadi
kebutuhan akan pentingnya karakter pribadi yang kuat, baik dan matang.
Karakter
sangat dibutuhkan bagi semua orang karena sangat diperlukan dalam menjalani
kehidupan yang penuh dengan tantangan. Karakter sangat berguna untuk menghadapi
segala macam rintangan dalam mengarungi kehidupan. Karakter sangat menentukan
tingkat kemudahan setiap orang dalam menghadapi segala problem kehidupan.
Semakin kuat karakter seseorang akan lebih mudah baginya dalam mencari solusi
atas semua problem yang dialami.
Menurut
Pusat Bahasa Depdiknas, pengertian karakter adalah “bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen,
watak”. Sedangkan berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat,
dan berwatak”. Untuk memiliki pribadi yang berkarakter ada beberapa sifat yang
perlu ditumbuh kembangkan yaitu: mencintai Tuhan dan semua ciptaannya;
bertanggung jawab; berdisiplin; kemandirian; baik; rendah hati; percaya diri;
kreatif dan bekerja keras; kepemimpinan dan keadilan; toleransi; kedamaian;
kesatuan; kejujuran; kearifan; hormat; santun; dermawan; suka menolong; gotong
royong; kerjasama; dan sejenisnya.
Sikap
seperti peduli, berempati, kelemahlembutan, rendah hati, optimis adalah merupakan
hal untuk menumbuhkembangkan kepribadian yang bukan hanya dapat mempengaruhi
kesehatan jasmani dan ruhani setiap orang, tetapi juga akan memunculkan
kenyamanan, kesenangan dan ketentraman bagi orang lain dan lingkungan
sekitarnya.
Manusia
dalam kehidupan sehari-hari, tidak bisa terlepaskan dengan sesama manusia. Hal
tersebut sangat jelas seperti apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa manusia
itu adalah zoon politicon, maksudnya manusia adalah makhluk sosial. Sehingga
dengan demikian manusia tidak bisa melepaskan diri dari hubungan interpersonal
antara sesamanya, termasuk lingkungannya. Oleh karenanya Islam pun mengajarkan
bahwa, “Khairukum anfa’uhum linnaas,” sebaik-baik orang adalah mereka yang
bermanfaat bagi sesamanya. Bermanfaat dalam arti mereka mampu berkarakter,
memiliki sopan-santun kepada siapa saja dan bisa memberi bantuan bilamana
dibutuhkan.
Bukankah
penguat karakter yang utama adalah seberapa besar tingkat kemampuan setiap
orang dalam menjalankan amanah, dan kesanggupan berkomitmen untuk selalu
berperilaku jujur demi kemuliaan. Jadi kata kuncinya adalah “berkarakter”
pastikan bisa menjadi individu yang berkarakter unggul atau baik. Jadilah orang
yang selalu berusaha melakukan hal terbaik demi Tuhan Yang Maha Esa, dan
terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia dengan
memaksimalkan dan mengoptimalkan seluruh potensi terbaik yang dimiliki. (La
Odi Mandong).
C.
Insan Yang Berbudaya
Insan yang berbudaya adalah insan yang memiliki kapabilitas tinggi dalam
interaksi dan adaptasi
sosial, serta menjujung tinggi
nilai-nilai luhur hasil olah hati, olah pikir,
olah rasa, olah batin, dan olah rohani
yang terkandung dalam budaya bangsa.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan
dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk
dari banyak unsur yang rumit, termasuk system agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni.
Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan
itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan
benda- benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya
ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Manusia sebagai makhluk berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk –
makhluk lain yang diciptakan di muka bumi ini
yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena
itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemimpinannya di muka bumi disamping tanggung jawab
dan etika moral harus dimiliki, menciptakan
nilai kebaikan, kebenaran, keadilan dan
tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain itu manusia juga harus mendayagunakan akal budi untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk Tuhan di muka bumi ini.
Tujuan dari pemahaman bahwa manusia sebagai mahluk budaya, agar dapat dijadikan dasar pengetahuan dalam mempertimbangkan dan mensikapi berbagai problematik budaya
yang berkembang di masyarakat sehingga
manusia tidak semata-mata merupakan mahluk
biologis saja namun juga sebagai mahluk sosial, ekonomi, politik dan mahluk budaya.
Seperti
apakah insan Indonesia yang berbudaya?. Tentu bukan hal mudah
mendefinisikannya, apalagi menunjuk figur pembuktian sebagai contoh teladannya.
Menyebut seseorang sebagai panutan belum tentu disepakati oleh semua orang.
Karena itu biarlah setiap orang membayangkan sendiri dengan caranya
masing-masing. Yang penting semuanya bertemu pada satu titik: tipe ideal
manusia Indonesia.
Dalam
penjelasan Bagian Umum UU RI nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
anak dijelaskan sebagai amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang
senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan
hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Dari sisi kehidupan
berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus
cita-cita bangsa.
Terlebih
lagi di era jaman globalisasi, era teknologi dan informasi canggih yang penuh
tantangan dan krisis moralitas, peran orang tua dalam keluarga semakin besar
dan mutlak diperlukan dalam pertumbuhkembangan diri anak. Orang tua hendaknya
sadar bahwa pendidikan dasar dan utama bagi anak-anak berada di dalam keluarga
masing-masing agar tercipta anak yang berbudaya dan beriman. Maka ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan.
Pertama,
arti pentingnya orang tua dalam keluarga. Keluarga menjadi tempat pendidikan
untuk memperkaya kemanusiaan. Pendidikan yang diwariskan orang tua dalam
keluarga haruslah pendidikan dalam arti menyeluruh, yang meliputi pendidikan
fisik, kepribadian, intelektual, sosial, iman dan moral.
Kedua,
peran ayah dan ibu terhadap anak. Kehadiran seorang ayah sangat membantu
pembinaan anak, tetapi juga peran ibu yang mengurus rumah tangga dengan baik.
Anak-anak memerlukan perhatian, kehangatan dan kemesraan hubungan dengan orang
tua dan saudara-saudara mereka.
Ketiga,
anak belajar dalam keluarga. Di dalam keluargalah anak-anak mendapat banyak
pembelajaran tentang cara berelasi dengan orang lain, lingkungan masyarakat dan
alam sekitarnya, diri sendiri dan Tuhan dalam kehidupan bersama.
Melihat
hal-hal penting dalam keluarga tersebut, peran orang tua amat berat. Orang tua
sendiri harus menjadi pemberi teladan insan berbudaya dan beriman terlebih
dahulu. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Sigmund Freud, anak
akan memperlakukan orang lain di masa dewasa seperti ketika ia diperlakukan
orang lain pada masa anak-anak (Corey, 2001).
Anak
akan menjadikan orang tua sebagai panutan dalam hidupnya. Sudah saatnya peran dan tanggung jawab
orang tua perlu ditekankan dan diberdayakan oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder)
dalam pembangunan keluarga Indonesia yang berkualitas. Ini dimulai dari
perlunya penanaman paradigma bahwa perkawinan suami-istri sebagai pembentukan
keluarga adalah hal suci (sakral) dan mempunyai tuntutan yang bertanggung jawab
terhadap pendidikan dan kesejahteraan anak lahir dan batin.
Pembentukan
anak berbudaya akan dapat mengurangi sebagian besar permasalahan anak dewasa
ini bila paradigma lama yang melalaikan peran dan taladan orang tua, kita
diubah menjadi paradigma baru yaitu bahwa peran dan tanggung jawab serta
teladan orang tua, hak dan kewajiban mutlak orang tua dalam memperhatikan dan
memilih pendidikan anak merupakan hal esensial dalam menciptakan manusia
Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang
demokratis serta bertanggung jawab. Peran sekolah, negara dan masyarakat pada
dasarnya hanyalah bersifat sekunder, fasilitator dan pendukung.
D. Insan Yang Bermartabat
Apakah bermartabat artinya berpendidikan
tinggi? Memiliki harta yang berlimpah? Posisi yang sangat bagus di suatu
perusahaan? Lalu bagaimana sekolahnya cuma sampai Sekolah Dasar saja dan tidak
punya banyak harta?
Insan yang bermartabat adalah mereka yang
memiliki cita-cita untuk sukses dunia dan akhirat.Kita wajib berusaha menjadi
orang yang pintar, memiliki harta, dan memiliki kedudukan yang tinggi. Namun jangan lupa, tujuan dari
semuanya adalah mendapatkan Ridho dari Allah swt.
Contohnya,
jam menujukkan pukul 12 malam, dengan
lampu merah di jalan, sedangkan waktu
itu sudah tidak ada polisi, atau bahkan
kendaraan lain. Apa yang kira-kira dilakukan?
Melaju terus seolah tidak pernah ada
lampu merah di sana atau berhenti meskipun
kamu adalah satu-satunya orang yang
ada di situ?
Martabat
tidak berhubungan dengan kekayaan dan
kedudukan. Banyak orang kaya dan
punya posisi tinggi tetapi tidak punya
martabat. Mereka adalah orang kaya yang
memamerkan kekayaannya padahal jutaan
orang lain, termasuk tetangganya, hidupnya
masih melarat. Mereka adalah orang-orang
yang punya posisi tinggi tetapi selalu
minta dilayani bukan melayani orang- orang
yang dipimpinnya.
Orang-orang
bermartabat selalu menjaga sikap dan
perbuatan. Mereka tidak silau dengan
gemerlapnya dunia. Mereka tidak mudah
mengikuti arus. Mereka adalah orang yang
hidupnya sederhana dan bersahaja namun
pikiran dan hatinya merdeka. Hidupnya
mungkin tak dikenal manusia, tetapi
kehebatannya mungkin tersiar di penduduk
langit.
Kualitas
karakter seseorang atau manusia dapat
menentukan martabat seorang manusia; kualitas karakter sebuah bangsa akan menentukan martabat sebuah bangsa tersebut. Jika seorang atau manusia memiliki kualitas karakter yang kuat, maka dia atau mereka akan menjadi manusia bermartabat. Sebaliknya,
jika seorang atau sekelompok manusia
memiliki kualitas karakter, maka dia atau
mereka dianggap tidak atau kurang bermartabat
dan beradab. Hal ini menunjukkan
bahwa karakter menjadi prasyarat yang
harus ada – conditio sine qua non –
manusia yang bermartabat. Manusia bermartabat
di sini adalah seorang atau
sekelompok manusia yang disegani,
dihormati, dijunjung, diperhitungkan,
dan diakui keberadaannya oleh pihak
lain atau manusia lain.
Di
samping itu, manusia bermartabat dan beradab
senantiasa didengar pendapat- pendapatnya,
dirujuk tindakan-tindakannya, dan
diteladani segala perilakunya oleh manusia
lain atau bangsa lain. Dalam masa sekarang,
manusia atau kelompok manusia (baca:
bangsa) bermartabat itu antara lain
memiliki ciri sebagai berikut :
a. memiliki
keimanan dan ketakwaan serta ahklah
yang kuat,
b. memiliki
kemampuan, keberanian, kejujuran, dan
ketulusan untuk menyatakan segala
kebenaran demi kemaslahatan manusia
lain,
c. memiliki
kedaulatan, kemandirian, keberdikarian,
keindependenan, dan daya saing
positif dari pihak lain atau manusia lain,
d. memiliki
keberdayaan, keberkuasaan, kekuatan,
dan kemampuan menentukan nasib sendiri baik secara politis, ekonomis maupun sosial budaya,
e. memiliki
kemampuan memelopori dan mendorong
kerja sama dan hubungan antar-manusia,
f. memiliki
kemantapan, ketahanan, dan kelenturan
politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
teknologi.
g. menguasai
ilmu, teknologi, dan ekonomi yang
berarti dan berguna bagi peningkatan kemakmuran
dan kesejahteraan seluruh warga
manusia dan dunia,
h. mampu
memberikan sumbangan (kontribusi) penting
bagi dunia dan kawasan tertentu, misalnya
perdamaian dunia dan kemajuan dunia,
i.
mampu mewujudkan keadilan, kemakmuran, demokrasi, dan hak asasi manusia baik bagi siapa saja.
Berdasarkan
uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa manusia bermartabat selalu bermodalkan karakter yang kuat yang bermaslahat bagi manusia lain
dan kehidupan bersama.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan sebagai
suatu kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta
didik, pendidik administrator, masyarakat dan orang tua peserta didik.Didalam
membangun strategi membentuk generasi insan kuat, insan cerdas, insan
berbudaya, dan insan bermartabat dipastikan akan didapatkan sebuah proses
perkembangan di setiap individu dalam menjadi generasi tersebut.Ada beberapa
pendapat berbeda dalam mengartikan perkembangan,sedangkan istilah perkembangan
diberi makna dan digunakan untuk menyatakan terjadinya perubahan psikologis dan
aspek sosial.Dan harus diperlukan proses belajar pada setiap inidividu untuk
mencapai generasi insan kuat, insan cerdas, insan berbudaya, dan insan
bermartabat.Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Pembangunan pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat merupakan upaya pengejewantahan salah satu
cita-cita nasional, yaitu
menciptakan anak bangsa yang cerdas
dan bermartabat. Proses pencerdasan dan pemartabatan
bangsa dilakukan tidak lepas dari proses
belajar mengajar dan pelatihan baik melalui
jalur sekolah maupun jalur luar sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Hosnan, M.
2015. Psikologi Perkembangan Peserta
Didik – P3D. UNTIRTA
http://fylosofabad21.blogspot.com/2011/12/pancasila-adalah-bagian-kehidupan.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar